Dari Buaya Keroncong hingga Buaya Darat

Published February 15, 2013 by trioanaksejarah
Ilustrasi: Micha Rainer Pali

TAN TJENG BOK

 

Banyak orang mengenalnya sebagai seniman serba-bisa. Kesuksesan pula yang membuat hidup melarat di usia senja.

OLEH: DARMA ISMAYANTO
 

BAGI penikmat dunia hiburan tanah di zaman baheula, namanya tentu tak asing lagi. Dia tergolong artis serba-bisa. Menyanyi. Berakting. Tampil di atas panggung. Padahal kariernya dimulai dari seorang kacung dalam sebuah rombongan sandiwara di Bandung, melakukan pekerjaan menyapu hingga membersihkan alat musik.

Tan Tjeng Bok masih berumur 13 tahun kala itu. Di rombongan sandiwara De Goudvissen ini, dia tak mendapat gaji. Hanya makannya ditanggung. Imbalan paling berarti baginya adalah alunan suara dari sang penyanyi pujaan Ben Oeng (Beng). Tjeng Bok memendam hasrat pada dunia tarik suara.

Tak dinyana, keberuntungan datang padanya. Beng berhalangan tampil, dia pun didapuk untuk menggantikannya. Walau cuma dibekali latihan kilat, penampilan perdananya tergolong sukses. Modal ini membuatnya percaya diri untuk bergabung dengan grup keroncong Hoot Visen. Tjeng Bok juga mulai kerap mengikuti kontes nyanyi keroncong. Karena sering keluar sebagai juara, dia pun dikenal sebagai “buaya keroncong” di Bandung. Dia menapak karier di dunia hiburan, sekalipun ayahnya tak merestui.

Tan Tjeng Bok lahir di Jakarta pada 30 April 1899. Dari sembilan bersaudara, hanya dia yang berkulit hitam sehingga mendapat sebutan Si Item atau Om Item. Pasalnya, dia satu-satunya anak hasil perkawinan sang ayah yang seorang keturunan Tionghoa, Tan Soen Tjiang, dengan gadis Betawi asal Jembatan Lima, Jakarta, bernama Darsih. Karena tak beroleh restu orangtua, mahligai rumahtangga orangtuanya hanya bertahan satu tahunan. Setelah itu, sang ayah menikah lagi dengan gadis Tionghoa dan memberikan Tjeng Bok delapan adik tiri.

Tjen Bok sempat mengenyam pendidikan di Hollandsch Chineesche School di Jalan Braga tapi tak sampai tamat. Tingkah bengalnya yang kerap membolos membuat sang ayah memutuskan agar Tjeng Bok berhenti sekolah. Ketika Tjeng Bok bergabung dengan Orkes Keroncong Si Goler, pimpinan Mat Pengkor, ayahnya melarang. Karena Tjeng Bok tak pernah menggubris, ayahnya yang dikenal jago silat serta berperangai keras dan disiplin, memukulinya. Di usia 14 tahun, Tjeng Bok minggat ke Jakarta, mencari ibunya di Jembatan Lima.

Di Jakarta, perhatian Tjeng Bok mulai beralih dari keroncong ke pertunjukan wayang China, semacam stamboel atau komedi bangsawan. Dia menjadi kacung rombongan Sui Ban Lian, yang bermain tetap di Sirene Park di Jalan Hayam Wuruk. Merasa kurang cocok, dia pindah kerja sebagai tukang putar proyektor di sebuah bioskop keliling. Tjeng Bok kembali ke Bandung setelah sang ayah menjemput dan membujuknya.

Bagi Tan Tjeng Bok, kesenian seperti takdir yang tak dapat diingkarinya. Tak kapok pernah dihajar sang ayah, pada suatu malam Imlek, Tjeng Bok bergabung dengan grup lenong Si Ronda pimpinan Ladur. Sehabis Imlek, rombongan berencana keliling ke daerah perkebunan-perkebunan di Jawa Barat. Sang ayah kali ini tak dapat lagi menoleransi perilaku anaknya. Tjeng Bok diusir.

Tjeng Bok jalan terus. Enam bulan pentas keliling bersama grup Si Ronda, sekembalinya ke kota Bandung, Tjeng Bok bergabung dengan Stambul Indra Bangsawan. Awalnya sebagai tukang membenahi panggung, tapi kemudian pemimpin pentas (toneel directeur) Djaffar Toerki menariknya sebagai pemain pembantu. Tak kerasan, dia beralih ke orkes Hoetfischer pimpinan Gobang, kembali menyusur karier sebagai biduan.

Berpentas keliling Jawa, saat di Bangil, Jawa Timur, pada suatu kesempatan dia bertemu dengan Pyotr Litmonov atau Pedro, seorang keturunan Rusia yang memimpin grup tonil atau opera Dardanella. Tahun 1920, Tjeng Bok pun bergabung dan mulai menjalankan perannya sebagai “anak wayang”, sebutan untuk pemain panggung.

Dardanella, berdiri pada 21 Juni 1926, adalah grup tonil (sandiwara) terkemuka saat itu yang mendapat pengakuan internasional. Mereka pernah pentas di empat benua. Menurut Yunus Yahya dalam Peranakan Idealis, di Dardanella inilah Tan Tjeng Bok merengkuh puncak karier. Grup ini memang luar biasa. Bermain di setiap kota berbulan-bulan. Ceritanya hebat-hebat, seringkali karya Shakespeare macam Hamlet dan Romeo and Juliet.

Dalam periode ini, Item hidup bagaikan dalam dongeng. Dia bahkan mendapat julukan  “Douglas Fairbanks van Java” –Fairbanks adalah bintang Hollywood ternama. Dia juga memperoleh bayaran paling tinggi, seimbang dengan kualitas permainannya. Tak heran jika dia hidup bergelimang harta. Dia punya mobil Rolls-Royce dan kerap gonta-ganti istri. Selama hidupnya, Item mengaku kawin-cerai hingga 100 kali.

Seperti tonil yang dia mainkan, sebuah babak pasti ada akhirnya. Dardanella tutup layar awal 1940-an. Tjeng Book harus gonta-ganti grup; dari sandiwara keliling Orpheus pimpinan Manoch hingga Star pimpinan Afiat. Dalam The Komedie Stambul karya Matthew Isaac Cohen, Tjeng Bok sempat berujar kalau berpindah-pindah grup bagi artis stambul adalah hal biasa. “Untuk cerita-cerita yang dimainkan, antara grup stambul satu dan yang lainnya di masa lalu semua sama. Perbedaan di antara mereka hanya terletak pada pemain dan technical effect,” kata Tjeng Bok.

Menjelang pendudukan Jepang, di Jakarta berdiri perusahaan Java Industri Film (JIF) milik The Theng Tjoen. Bersama JIF inilah, Item masuk babak baru. Pada 1941, dia membintang film layar lebar pertamanya Srigala Hitam garapan Tan Tjoei Hock, pemilik Studio Hajam Woeroek. Pada tahun yang sama dia membintangi film Si Gomar, Singa Laoet, dan Tengkorak Hidoep.

Sempat terhenti ketika Jepang masuk, dunia film Indonesia kembali menggeliat pada 1950-an. Pada masa inilah Item mulai menancapkan hegemoninya di layar lebar. Dia membintangi sepuluh judul film. Puncaknya, 1970 sampai 1980, tak kurang dia membintangi 25 film. Antara lain Melarat Tapi Sehat (1954), Judi (1955), Peristiwa Surabaya Gubeng (1956), Badai Selatan (1960), dan Bengawan Solo (1971). Selain bermain di layar lebar, Item kerap tampil di cerita sandiwara televisi.

Sayang, kesuksesan membuat Item lupa daratan. Dia gemar berfoya-foya. Gaya hidupnya yang boros membuat dia menjalani masa senja dalam keadaan melarat, sehingga pernah melakoni hidup sebagai kenek oplet dan tukang obat. Dari 100 perempuan, tinggal Sarmini –perempuan asal Bojonegoro yang dinikahinya pada 1947– menemani hingga akhir hayatnya. Dari Sarmini, Tjeng Bok beroleh dua anak, Nawangsih dan Sri Anami.

Pada 15 Februari 1985, aktor tiga zaman ini meninggal dunia pada usia 85 tahun karena sakit jantung. Delapan belas tahun kemudian, pemerintah mengakui jasa-jasanya dengan menganugerahkan tanda jasa Bintang Budaya Paramadharma.

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: